Beginning Series

•September 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ufff.. lega akhirnya sampai juga di bulan Ramadhan ,bulan penuh berkah.Dengan suasana berbeda ,tempat berbeda .REVIEW 2 BULAN LALU ;
Syukur akhirnya niat untuk meringankan beban orangtua terlaksana juga ,walaupun ambisi utama akhirnya tidak tercapai (mungkin itu bukan jalan aq).Manusia cuma bisa merencanakan yang meng”gol”kannya kan tetap Sang Khalik.Teringat ama teman-teman SMA yang pasang target ke salah satu perguruan tinggi ato Akademi/Kedinasan malah banyak yang meleset, HIDUP BUKAN MATEMATIKA SOBAT.Justru orang yang low profile malah yang justru melesat ,ITs rollercoaster,tidak selamanya kita bisa diatas .Namun apapun yang kita terima sikapi dengan kepala jernih , maybe that is your best way.Selama kita masih yakin ama yang Diatas,I Think LIve IS Always BEatiful
Ciaoo..

Uni Eropa VS Maskapai Penerbangan Indonesia

•September 19, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Masih segar dalam ingatan kita tentang pelarangan maskapai penerbangan Indonesia untuk mengudara di benua Eropa atas dasar kebijakan yang diambil oleh Uni Eropa pada beberapa waktu yang lalu. Kebijakan tersebut diambil karena pesawat – pesawat Indonesia dinilai tak memenuhi standar keamanan setelah terjadi sejumlah kecelakaan di Indonesia. Otoritas penerbangan di Indonesia pun dinilai gagal memberikan jaminan keamanan. Larangan itu berpengaruh besar bagi para penumpang asal Eropa yang menggunakan maskapai Indonesia lainnya di luar Eropa. Menurut kantor berita AFP, peraturan di Eropa mewajibkan para penumpang asal Eropa menerima informasi tentang maskapai masuk ke dalam daftar hitam. Mereka pun berhak menarik tiket kembali atau meminta menggunakan maskapai lain. Wakil Presiden Komisi Transportasi Uni Eropa Jacques Barrot menjelaskan, daftar hitam dari Uni Eropa terbukti akan menjadi alat untuk mencegah pesawat yang tak aman terbang ke Eropa sekaligus memberikan informasi kepada penumpang yang akan bepergian ke seluruh dunia. “Juga memastikan maskapai dan otoritas penerbangan sipil bertindak untuk menciptakan keamanan dalam penerbangan,” ucap Barrot seperti dilansir oleh kantor berita AFP. Hal tersebut secara otomatis mencoreng kembali wajah Indonesia di pergaulan internasional dan dapat berpengaruh buruk bagi pariwisata Indonesia.
Kekhawatiran pun terjadi seperti di Yogyakarta dimana para pelaku industri pariwisata di sana resah dengan adanya larangan ini. Apalagi, dunia pariwisata di Yogyakarta sampai saat ini belum pulih akibat terjadinya gempa bumi setahun lalu. Jika larangan itu betul diberlakukan, dunia pariwisata di Yogyakarta bakal terpuruk lagi. Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Yogyakarta, M.A. Desky menuturkan, “Jika sampai larangan Uni Eropa itu ditaati oleh masyarakat Eropa akan banyak perusahaan anggota Asita yang gulung tikar karena penghasilan utama perusahaan-perusahaan ini berasal dari kunjungan turis”.
Untungnya kekhawatiran tersebut hingga kini belum terjadi. Meskipun komisi Uni Eropa melarang pesawat Indonesia terbang ke benua tersebut, namun bagi sejumlah wisatawan asal eropa sendiri, nampaknya larangan tersebut belum berlaku bagi mereka. Mereka menyatakan tidak takut naik pesawat milik maskapai penerbangan Indonesia. “Tak ada masalah dengan penerbangan pesawat Indonesia. Semua baik-baik saja dan tepat waktu, jadi kami tidak takut,” kata Jeanette Shutton, wisatawan asal Wales setelah naik salah satu pesawat milik maskapai Indonesia untuk berlibur ke Padang. Bahkan pemesanan tiket pesawat dengan tujuan ke Indonesia menggunakan maskapai penerbangan Indonesia masih banyak. Hal itu menunjukkan bahwa larangan terbang oleh Uni Eropa tidak terlalu berpengaruh terhadap minat kunjungan wisatawan asal Eropa ke Indonesia
Setelah beberapa lama kabar mengenai larangan ini beredar, yang dapat membuat kita bernafas dengan lega adalah dari kabar terbaru yang mengatakan bahwa larangan terbang ke langit Eropa bagi maskapai penerbangan Indonesia bakal dicabut. Departemen Perhubungan (Dephub) yakin akan hal itu. Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mengumumkan kabar gembira bahwa pesawat Garuda tak jadi dicekal terbang ke Arab Saudi. Itu dilakukan setelah tim General Authority of Civil Aviation (GACA) dari Arab Saudi mengaudit maskapai penerbangan Garuda Indonesia. Hal ini akan diikuti oleh Uni Eropa karena sejumlah negara secara resmi menyesalkan keputusan Uni Eropa yang melarang pesawat puluhan maskapai penerbangan Indonesia menerbangi langit Eropa.
’’Beberapa negara telah menyampaikan sikap mereka secara resmi. Misalnya, Italia, Denmark, Latvia, Uni Emirat Arab, dan Saudi Arabia, serta beberapa negara bagian di Benua Afrika melalui surat resmi yang dikirimkan kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara masing-masing’’, kata Dirjen Perhubungan Udara Budhi Muliawan Suyitno di gedung Dephub. Menurut dia, sikap tersebut merupakan bentuk empati atas keputusan sepihak (unilateral) Komisi Uni Eropa terhadap maskapai penerbangan serta pemerintah Indonesia.
Dari tulisan diatas dapat dilihat betapa pesimisnya bangsa kita dalam menghadapi kenyataan yang baru akan terjadi. Pesimis karena khawatir pemerintah tidak mampu untuk mengatasi larangan tersebut karena dari kenyataan yang terjadi memang benar bahwa banyak kecelakaan pesawat udara yang terjadi pada maskapai Indonesia dan kecelakaan – kecelakaan itulah yang mendasari munculnya larangan untuk terbang memasuki Eropa. Beruntung beberapa negara sahabat memberikan rasa empatinya terhadap Indonesia sehingga peluang untuk mengudara di wilayah Eropa bagi maskapai Indonesia masih ada dan sedang diperjuangkan untuk menarik kembali larangan tersebut. Peluang tersebut sedikit bertambah besar melihat masih tingginya minat para wisatawan mancanegara asal eropa untuk mengunjungi Indonesia. Dengan adanya hal – hal tersebut sudah sepantasnya Indonesia mampu untuk mengatasi persoalan internasional tersebut. Persoalan akan semakin berat jika rakyatnya sendiri tidak mendukung kinerja pemerintah. Dukungan terhadap pemerintah sangat diperlukan dan patut untuk diberikan karena pemerintah tidak akan menjerumuskan rakyatnya sendiri. Dengan dukungan yang ada dari rakyat sendiri dan bahkan dari negara – negara lain, kita semua berharap agar pemerintah Indonesia mampu menuntaskan masalah ini dan kembali dipercaya di dunia internasional.

Pembenaran atas Kebijakan Subsidi Harga Oleh Pemerintah

•September 19, 2007 • 1 Komentar

Kebijakan Subsidi merupakan kebijakan yang ditujukan untuk membantu kelompok konsumen tertentu agar dapat membayar produk(goods) atau jasa yang diterimanya dengan tarif di bawah harga pasar, atau dapat juga berupa kebijakan yang ditujukan untuk membantu produsen agar memperoleh pendapatan di atas harga yang dibayar oleh konsumen, dengan cara memberikan bantuan keuangan, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Secara ekonomi, tujuan subsidi adalah untuk mengurangi harga atau menambah keluaran (output) . Subsidi merupakan aktifitas ekonomi yg wajar. Subsidi bukanlah sesuatu yg menyalahi aturan apapun. Subsidi merupakan sebuah tindakan penyelamatan diri. Subsidi bisa jadi merupakan bagian dari “survival”.

Kebijakan pemberian subsidi biasanya dikaitkan kepada barang dan jasa yang memiliki positif eksternalitas dengan tujuan agar untuk menambah output dan lebih banyak sumber daya yang dialokasikan ke barang dan jasa tersebut, misalnya pendidikan dan teknologi tinggi.Artinya tidak semua barang dan jasa yang disubsidi.

Rasionalisasi dari diberikannya subsidi harga adalah karena subsidi harga dapat digunakan sebagai mekanisme pemerataan. Dalam beberapa jenis penyediaan barang publik, subsidi harga dapat digunakan untuk mengoreksi ketidaksempurnaan pasar (misal: pendidikan dan kesehatan dasar).Di samping itu, subsidi terhadap penyediaan barang-barang kebutuhan pokok dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat miskin.

Di Indonesia sendiri pemberian subsidi dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu

1.Subsidi BBM

Subsidi BBM diberikan pemerintah kepada masyarakat golongan ekonomi rendah dengan tujuan agar bisa mendapatkannya dengan mudah. Sebenarnya pada BBM pemerintah bisa dikatakan tidak melakukan subsidi karena biaya produksinya justru dibawah harga yang ditetapkan.Namun kebutuhan nasional lebih banyak dari produksi nasional ,untuk itulah pemerintah harus melakukan impor dengan harga minyak dunia yang jauh lebih mahal daripada harga yang diterapkan. Sebenarnya yang diimpor ini juga tidak disubsidi karena pemerintah juga menerapkan harga yang berbeda bagi industri.

Subsidi yang dimaksud disini adalah pemerintah menjual minyak kepada masyarakat umum dengan harga dibawah harga minyak dunia.Hal ini dilakukan karena BBM merupakan komoditas yang sangat vital dan bisa menyebabkan kenaikan harga pada bidang lainnya. Oleh karena itu, jika subsidi dihapuskan dan harga BBM meningkat, sebagai konsekuensinya tentu akan menimbulkan dampak distribusi. Kelompok masyarakat yang dapat melakukan respons dengan cepat akan relatif tidak terlalu dirugikan. Namun untuk masyarakat yang lebih lambat kemampuannya dalam melakukan respons karena keterbatasan pendapatan, tabungan dan kepemilikan aset, dan alasan struktural lainnya, mereka akan kesulitan mempertahankan tingkat kesejahteraannya. Golongan masyarakat inilah yang sesungguhnya sangat rentan dan dirugikan jika subsidi BBM dikurangi apabila tidak diikuti suatu kebijakan yang dapat mengkompensasi penurunan kesejahteraan yang dialami masyarakat tersebut.

2.Subsidi Non BBM

Subsidi nonBBM yang meliputi subsidi listrik, subsidi bunga kredit program, subsidi pangan, subsidi pupuk, subsidi benih, dan subsidi PSO (Public Service Obligation) bertujuan untuk menjaga stabilitas harga, membantu masyarakat kurang mampu dan usaha kecil dan menengah dalam memenuhi sebagian kebutuhannya, serta membantu BUMN yang melaksanakan tugas pelayanan umum. Subsidi non-BBM ini pada umumnya disalurkan melalui perusahaan/lembaga yang menghasilkan dan menjual barang atau jasa yang memenuhi hajat hidup orang banyak, sehingga harga jualnya dapat lebih rendah dari pada harga pasarnya dan dapat terjangkau oleh masyarakat.

Dalam pelaksanaanya memang subsidi baik BBM maupun non BBM memiliki permasalahan-permsalahan diantaranya menciptakan alokasi sumber daya yang tidak efisien, pemborosan pemakaian,tidak tepat sasaran dan lain-lain.Penanganan permasalahan akibat adanya subsidi tentu saja bukan terus dengan serta merta mencabut subsidi. Pencabutan subsidi memang bisa terasa mengurangi permasalahan tetapi jelas tidak menyelesaikan permasalahan ekonomi yg terkait dengan subsidi.Oleh karena itu subsidi yang dilakukan pemerintah sangat penting dan harus tetap dipertahankan dan terus dikaji agar tepat sasaran dan memenuhi unsur prioritas.